Dampak Buruk Peningkatan BI Rate

Banyak pakar yang memprediksikan BI rate akan kembali mengalami kenaikan dan prediksi ini terealisasi sebagai hasil dari rapat dewan gubernur pada hari Kamis kemarin. Kenyataannya, kondisi ini akan semakin mempersulit bisnis riil di Indonesia. Alasan BI kembali meningkatkan suku bunga BI rate dikarenakan kondisi inflasi masih dalam pertumbuhan yang cukup kuat serta permintaan agregat sangat bertumbuh dengan cepat.

Kondisi ini sangat tidak tepat dilakukan pada saat perbankan mengalami kondisi krisis likuiditas yang cukup buruk seperti saat ini. Peningkatan BI rate hanya akan menyebabkan persaingan perbankan memperebutkan dana pihak ketiga semakin gencar dari fakta yang terjadi saat ini padahal jika dibiarkan akan membahayakan kalangan nasabah.

Kondisi perbankan meningkatkan suku bunga sampai ada yang menyentuh level 13% sangat membahayakan perbankan serta nasabah karena suku bunga yang dijamin hanya sebesar 8.75% oleh LPS. Bunga kredit pun semakin gencar ditingkatkan otomatis beberapa sektor seperti property yang mengandalkan KPR serta KPA akan tergusur.

Pertanyaan besar saat ini, mengapa kondisi inflasi harus selalu diselesaikan menggunakan instrument moneter khususnya suku bunga? Padahal beberapa instrument lain masih dapat diandalkan seperti pajak serta pengendalian harga barang. Dunia usaha akan semakin terpukul dengan konsisi ini.

Kondisi ekstrim ini banyak disayangkan oleh banyak pihak seperti pernyataan wakil Ketua Panitia Anggaran DPR, Harry Azhar Aziz, yang berpendapat penaikan BI Rate menjadi 9,25% tidak mampu mengendalikan laju inflasi. Langkah itu, menurutnya, menyebabkan perbankan mengalami kesulitan likuiditas akibat sejumlah bank terpicu menawarkan bunga deposito di atas 12%.
Efek dari kondisi ini telah menurunkan IHSG sebesar 1.93% pada penutupan perdagangan dihari kemarin serta menuntun IHSG pada level terendah dibawah level 2000 dari keseluruhan perdagangan semenjak bulan Agustus tahun 2007. Patokan IHSG sampai menyentuh level 9.5% diakhir tahun terasa sangat memberatkan dan akan berpengaruh buruk pada kondisi pasar finansial di Indonesia.

Pertimbangan mencari cara lain untuk mengatasi inflasi selain dari BI rate adalah ide yang cemerlang demi membaiknya kondisi perbankan pada khususnya serta kondisi pasar finansial pada umumnya. Pemerintah tentunya harus memikirkan hal ini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: