Mengelola Risiko dengan Analisa Fundamental Perusahaan

Krisis subprime mortgage meluluhlantakkan bursa financial di seluruh dunia. Ini menimbulkan ketidakpastian dimana-mana. Namun, meskipun terdapat ketidakpastian besar, informasi yang datang tepat pada waktunya tentu akan memberikan petunjuk yang baik. Salah satu tantangan lainnya adalah mensortir informasi yang bagus diantara banyaknya informasi-informasi yang buruk.

Rumor mengenai perusahaan memang selalu beredar, terutama melalui internet dimana penyebaran informasi bisa terjadi dengan cepat. Namun tentunya rumor ini bisa jadi disebarkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap saham tertentu. Oleh karena itu, filter informasi menjadi penting.

Beberapa pihak juga mengandalkan analisa professional ataupun perusahaan rating mengenai prospek perusahaan ke depan. Namun, badan terkemuka seperti Standard & Poor hingga Moody’s Investor Service nyatanya juga turut bertanggung jawab terhadap terjadinya krisis subprime mortgage, sehingga tidak bisa diandalkan dengan penuh.

Investor tentu saja bisa melakukan analisa dengan laporan keuangan emiten yang wajib dikeluarkan tiap kuartal. Namun, ini juga bukan jaminan untuk masa depan, karena informasi yang disediakan adalah data historis. Namun setidaknya, investor dapat memiliki gambaran karena terdapat aturan akuntansi supaya perusahaan melakukan writedown ataupun mengakui kerugian atas asset yang nilainya berkurang secara temporer. Sehingga ini bisa menjadi salah satu indikasi ataupun pertanda mengenai adanya masalah.

Gregory Waymire, seorang professor Akuntansi dari Goizueta mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus, perangkat analisa dan trend dapat memberikan indikasi awal mengenai kesehatan financial perusahaan.

Waymire mengungkapkan, penurunan pendapatan selama beberapa periode bisa menjadi focus perhatian. Terutama, jika penurunan ini diakibatkan oleh turnover piutang yang menurun. Ini mengindikasikan bahwa pelanggan perusahaan bermasalah dalam melunasi tagihannya.

Turunnya interest coverage, atau rasio yang membandingkan pendapatan sebelum bunga dan pajak terhadap total pembayaran bunga, juga mensinyalkan sebuah kelemahan. Perusahaan yang memiliki pendapatan lebih tinggi signfikan terhadap bunga yang ditanggungnya terntunya memiliki posisi yang lebih baik secara financial. Sebaliknya, perusahaan yang tidak dapat menutup biaya bunganya berpeluang besar untuk jatuh bangkrut.

Literatur akademis banyak yang berfokus pada deteksi awal mengenai kekuatan dan kelemahan sebuah perusahaan. Salah satu ukuran yang popular adalah yang dikembangkan Edward Altman dari Universitas New York, yakni Z-Score. Z-Score menggunakan rasio-rasio dalam laporan keuangan, misalnya ROA, sales turnover dan rasio working capital, untuk memprediksikan kebangkrutan. Perusahaan dengan skor lebih dari 3 dianggap memiliki risiko rendah untuk bangkrut. Sementara jika skor semakin rendah maka merupakan indikasi adanya masalah financial dalam perusahaan.

Model lainnya dikembangkan oleh Tyler Shumway dari Universitas Michigan, yang menggunakan laporan keuangan dan data pasar, termasuk return dan volatilitas saham, untuk mengukur kemungkinan perusahaan untuk bangkrut.

Model ketiga yang disebut Merton/KMV model dikembangkan oleh Robert Merton dari Universitas Harvard, membandingkan asset dan utang perusahaan dan mengukut seberapa jauh asset perusahaan harus anjlok sebelum menemui kebangkrutan.

Daniel Benish dari Universitas Indiana juga mengembangkan model yang digunakan untuk memprediksi fraud akuntansi. Model ini menggunakan beragam variable dalam laporan keuangan, termasuk tingkat depresiasi, gross margin dan leverage. Beneish model ini mampu memprediksikan beberapa fraud besar, termasuk Worldcom Inc.

Peter Demerjian, seorang asisten profesor akuntansi berpendapat, bahwa peningkatan signifikan dalam A/R (piutang) terhadap persentase penjualan juga merupakan indikasi awal dari masalah financial. Indikasi lainnya antara lain perusahaan mulai memangkas proyek investasi jangka panjang, menawarkan diskon besar-besaran (ritel) hingga melonggarkan kebijakan kredit (karena butuh likuiditas jangka pendek).

Intinya, meskipun pasar diliputi ketidakpastian yang teramat besar, namun tentunya Anda bisa melihat indikasi-indikasi tertentu jika terdapat masalah dalam perusahaan. Sehingga Anda bisa mengambil keputusan untuk tetap bertahan ataupun keluar dari pasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: