Peluang Money Laundering Kian Terbuka

Taktik pencucian uang atau yang dikenal dengan money laundering kini menjadi permasalahan kembali dalam dunia keuangan Indonesia. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menilai empat lembaga keuangan nonperbankan berpotensi disalahgunakan sebagai sarana pencucian uang. Lembaga tersebut termasuk dalam kategori dana pension, perusahaan asuransi, perusahaan efek serta perusahaan pembaiayaan.

Kini pengawasan terhadap lembaga tersebut harus semakin diperkuat melalui penempatan, transfer serta pembelanjaan pada perusahaan efek serta manajer investasi. Bapepam-LK telah menerbitkan peraturan V. D. 10 tentang prinsip mengenal nasabah atau KYC (know your customer) . Selain itu, pihaknya juga akan melakukan identifikasi transaksi keuangan mencurigakan (suspicious transaction report) maupun transaksi keuangan tunai atau cash transaction report. Berdasarkan peraturan V. D. 10 disebutkan perusahaan efek, bank kustodian, dan pengelola reksa dana wajib menerapkan prinsip mengenal nasabah dengan membentuk unit kerja atau menugaskan direksi atau setingkat di bawah direksi yang menangani penerapan prinsip mengenal nasabah. Berdasarkan UU No.8/1995 tentang Pasar Modal, perusahaan efek atau penasihat investasi wajib mengetahui latar belakang, keadaan keuangan dan tujuan investasi nasabahnya.

Sebagai faktanya laporan yang mencurigakan atas transaksi diberbagai lembaga cukup besar. Pada lembaga perbankan, sedikitnya 122 laporan muncul menyangkut kecuriaan transaksi mencurigakan. Terbanyak di antaranya, yakni 60 pelapor dengan jumlah transaksi mencurigakan mencapai 5.262, terjadi di bank-bank swasta. Kondisi itu berbalik dengan bank BUMN yang hanya terdiri dari empat pelapor, meski angka laporannya mencapai 3.938. Pada lembaga keuangan bukan bank, tiga lembaga, yakni perusahaan efek, pedagang valuta asing, dan asuransi, dilaporkan 23 orang. Tetapi, laporan kecurigaan yang mencurikan tertinggi pada pedagang valuta asing, yakni 1.029 kasus. Yang relatif aman hanyalah dana pensiun, satu pelapor dengan satu transaksi mencurigakan.

Proses pencucian uang tersebut terbagi atas tiga mekanisme. Langkah pertama dari mekanisme tersebut melalui penempatan hasil kejahatan ke dalam sistem keuangan. Kedua, layering yaitu memindahkan bentuk dana melalui transaksi keuangan yang kompleks agar mempersulit pelacakan asal usul dana, dan ketiga, mengembalikan dana yang tampak sah kepada pemiliknya sehingga dapat digunakan dengan aman.

Sebagai contohnya adalah pembelian polis asuransi disertai pembayaran premi dalam jumlah yang cukup besar kemudian dana tersebut dicairkan sebelum jatuh tempo atau penginvestasian melalui perusahaan sekuritas yang akhirnya menerima dana hasil investasi itu (termasuk profit/loss).

Hentikan money laundering sekarang juga. Melalui penghentian transaksi ini, Indonesia akan terhindar dari kejahatan dalam dunia keuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: